Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Pagi itu...

Bangun lah sayang... Esok yang kau tunggu kemarin telah tiba Pagi yang kau rindu semalam telah datang Berdirilah sayang... Mumpung siang belum datang Mumpung fajar belum tenggelam Buka matamu Tenggak kopimu Lihat... Mega melingkar meminang gunung.

Mentari malam

matahari malam ku,,, kau ciptakan binar cahaya terang d dalam gulitanya hati ini,, kau tebarkan sayap keindahan membawaku membahana ke dalam asa,, dengan cintamu kau ubah prosa kehidupanku ke dalam syair yang dengan malammu kau gubah dan dengan pagi mu kau nyanyikan. satu pinta untuk hati ini,, satu pinta untuk jiwa ini,, satu pinta untuk raga ini,, ku ingin dirimu hadir,, datang pada takdir,, jemput aku sampai akhir....:-)

SAJAK JALALUDIN RUMI

1. Aku bukanlah orang Nasrani, Aku bukanlah orang Yahudi, Aku bukanlah orang Majusi, dan Aku bukanlah orang Islam. Keluarlah, lampaui gagasan sempitmu tentang benar dan salah. Sehingga kita dapat bertemu pada “Suatu Ruang Murni” tanpa dibatasi berbagai prasangka atau pikiran yang gelisah. 2. Di dalam cahaya-Mu aku belajar mencintai. Di dalam keindahan-Mu aku belajar menulis puisi. Kau senantiasa menari di dalam hatiku, meski tak seorang pun melihat-Mu, dan terkadang aku pun ikut menari bersama-Mu. Dan “ Penglihatan Agung” inilah yang menjadi inti dari seniku. 3. Hakikat Yang Maha Pengasih hadir secara langsung laksana sinar matahari yang menerangi bumi. Namun, kasih-Nya tidaklah berasal dari berbagai bentuk yang ada di bumi. Kasih-Nya melampaui setiap bentuk yang ada di bumi, sebab bumi ini dan segala isinya tercipta sebagai perwujudan dari kasih-Nya. 4. Jika kau ingin melihat wajah-Nya, maka tengoklah pada wajah sahabatmu tercinta. 5. Sekian lama aku berteriak memanggi...